Berani Berekspresi dan Menabrak Stigma: Cerita Bhuboo di Tengah Ekosistem Kreatif Semarang
- 23 Jun
- 3 menit membaca

Mencari ruang aman untuk berekspresi terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi anak muda. Apalagi jika medium yang dipilih adalah tato, sebuah karya seni rupa yang kerap kali dibayangi oleh stigma negatif di tengah masyarakat Semarang. Namun, di sinilah letak inovasinya; Kak Ciki (Multidiscipline Visual) dan Kak Endes (Founder Bhuboo Temporary Tattoo) jeli melihat ruang kosong antara keinginan berekspresi dan rasa khawatir.
Lewat Bhuboo, mereka menawarkan alternatif bagi siapa saja yang ingin bereksperimen dengan seni tubuh secara temporer, tanpa perlu dihantui rasa sakit jarum suntik atau komitmen jangka panjang.
Dari Henna Pengantin Menuju 80 Titik Kolaborasi
Jika ditarik mundur ke tahun 2023, perjalanan Bhuboo justru bermula dari hal yang sangat organik. Kak Endes, yang awalnya membuka jasa henna untuk pengantin, mendapatkan permintaan unik dari seorang teman yang ingin digambarkan tato namun menggunakan bahan dasar henna.
Ternyata, karya iseng yang diunggah ke Instagram tersebut memanen antusiasme yang luar biasa dari publik. Melihat respons pasar yang sangat positif, Bhuboo pun mulai berevolusi menggunakan tinta Jagua, bahan alami yang menawarkan ketahanan warna jauh lebih baik. Konsistensi mereka dalam bergerilya dari satu pop-up market ke pop-up market lainnya membuahkan hasil; kini Bhuboo telah sukses berkolaborasi di lebih dari 80 titik yang tersebar di berbagai kafe, pusat perbelanjaan, hingga creative space.
Menabrak Stigma dengan Karya yang Berkualitas
Tidak bisa dimungkiri, Semarang masih memegang teguh norma sosial tertentu. Tato seringkali dikonotasikan dengan hal-hal berbau kenakalan atau sifat pemberontak. Di sinilah Bhuboo mengambil peran sebagai katalisator.
"Kita nabrak stigma itu pakai yang keren-keren. Jadi kita pakai tato temporer yang bisa bikin mengekspresikan diri lebih keren dengan atau tanpa dihakimi oleh stigma tersebut."
Kak Endes menjelaskan bahwa Bhuboo hadir justru untuk menabrak stigma usang tersebut lewat desain-desain yang keren dan personal. Banyak orang sebenarnya menaruh minat besar pada tato, namun terbentur oleh rasa tidak percaya diri dengan pilihan desainnya, atau ketidaksiapan membawa modifikasi tubuh seumur hidup. Tato temporer akhirnya menjadi jembatan kompromi; sebuah ruang di mana seseorang bisa tampil artsy dan mengekspresikan jati diri tanpa harus takut dihakimi oleh lingkungan sekitar.
Mendorong Pertumbuhan "Creative Space" Multidisiplin
Sebagai pelaku industri kreatif yang tumbuh bersama kota ini, Kak Ciki menyoroti perubahan positif dari lanskap konsumen Semarang. Daya apresiasi masyarakat terhadap produk seni rupa lokal semakin meningkat, gaya hidup mulai bergeser, dan perlahan warga asli Semarang pun mulai memadati lapak-lapak kreator lokal. Lingkungan kreatif Semarang terbukti suportif sejak awal mereka merintis usaha.
Namun, ada satu catatan penting: keterbatasan wadah. Ekosistem kreatif Semarang saat ini sangat membutuhkan lebih banyak Creative Space yang mengusung konsep multi-activity. Ruang ideal yang diimpikan adalah tempat di mana berbagai disiplin—mulai dari gigs musik, lapak makanan dan minuman, crafter, hingga workshop—bisa berbaur dalam satu pergerakan kolektif di hari yang sama.
Bhuboo sendiri membuktikan bahwa strategi cross-market (berkolaborasi silang dengan brand dari sektor lain) sangat esensial. Seringkali, audiens baru dari brand kolaborator tersebut justru menjadi pendukung garis keras yang loyal terhadap karya mereka.
"Kita jangan pernah merasa malu atau sungkan untuk berkolaborasi dengan brand-brand yang memang beda. Cross market itu untuk saat ini sangat penting, karena konsumen brand yang kita ajak kolaborasi itu terkadang lebih mendukung."
Jangan Tenggelam, Jadilah Ikan Salmon
Menutup obrolan, Kak Ciki dan Kak Endes menitipkan pesan penting bagi teman-teman kreator, artisan, maupun freelancer yang tengah merintis jalannya di Semarang.
Dari kacamata Kak Ciki, mengesampingkan ego idealis adalah kunci. Kreator harus mau berkompromi dengan membaca selera pasar sekaligus terus menaikkan kualitas produk agar tidak membosankan.
Sementara itu, Kak Endes memberikan analogi penutup yang reflektif: "Rasa malas itu ibarat arus sungai yang tenang namun bisa menenggelamkan." Para pelaku kreatif tidak boleh terbawa arus kenyamanan. Mereka harus berani menjadi seperti ikan salmon menerjang arus ke atas untuk mencapai tujuan, karena proses dan hasil akhirnya memiliki nilai yang sangat mahal.
"Ibarat arus sungai itu tenang, bikin tenggelam, itu adalah rasa malas kita. Dan kita harus jadi ikan salmon yang nerjang arus itu dan mencapai tujuan karena ikan salmon itu mahal."
Tentang Creator Spotlight
Creator Spotlight adalah program dari Collabox Creative Hub yang menyoroti kreator, inovator, dan pelaku industri kreatif di Semarang dan sekitarnya. Melalui sesi ini, Collabox memperkenalkan berbagai kisah inspiratif dari komunitas kreatif yang membentuk wajah ekonomi kreatif Jawa Tengah.
Sedang mencari ruang untuk berkarya dan berkolaborasi? 🌱
Bergabunglah dengan ekosistem Collabox Creative Hub. Dari Private Office hingga Event Space, kami menyediakan infrastruktur agar ide kreatifmu bisa tumbuh dan berdampak!



Komentar