top of page

Inclusive Talks: Membangun Kemandirian Ekonomi Komunitas Disabilitas di Semarang

  • Dec 16, 2025
  • 2 min read
Foto akhir acara Inclusive Talks di Collabox Creative Hub bersama seluruh audiens, speaker, dan moderator yang berpose dan tersenyum. Momen kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha difabel Semarang.

Rabu, 10 Desember 2025, Collabox Creative Hub menjadi tuan rumah bagi sebuah forum penting bertajuk Inclusive Talks: Membangun Kemandirian Ekonomi Komunitas Disabilitas. Acara ini digelar sebagai hasil kolaborasi antara Collabox Creative Hub, BAPPEDA, dan DINSOS Kota Semarang, menghadirkan dialog inspiratif antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas disabilitas.


Lebih dari 50 peserta hadir langsung di Collabox, mewakili berbagai komunitas di bawah Himpunan Masyarakat Inklusif Kota Semarang (HIMIKS), seperti EFATA, Yayasan Difabel Hati Bapa, Tangguh, IRD, P3D Semar Cakep, FOKADS, PPDI, FKKAD, KDM Kota Semarang, Kondang, HWDI, Komunitas Kinasih, COMPAC, KSD, Gading Semar, ITMI, dan banyak lainnya.

Tri Redjeki dari DINSOS Kota Semarang memberikan sambutan pembuka Inclusive Talks dengan mic di tangan dan gestur berbicara, disaksikan audiens komunitas disabilitas di Semarang.

Ekosistem Kolaborasi untuk Ekonomi Inklusif


Acara dibuka dengan sambutan dari Bu Lina Soeratman (Direktur Collabox Creative Hub), Bu Tri Redjeki (DINSOS Kota Semarang), dan Bu Dianis Januar Khoirunnisa (BAPPEDA Kota Semarang). Mereka menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor, pemerintah, swasta, dan komunitas, untuk memperkuat kemandirian ekonomi kelompok disabilitas.


Sebagai ruang kolaborasi kreatif, Collabox Creative Hub berkomitmen menjadi jembatan antara pelaku ekonomi kreatif dengan komunitas disabilitas, agar setiap talenta memiliki ruang untuk tumbuh, berdaya, dan berkontribusi dalam ekosistem ekonomi lokal.

Azis Abdullah Bajasud, pendiri Komunitas Difabel Mandiri, duduk di kursi roda biru sambil memegang mic dan berbagi pengalaman pemberdayaan disabilitas. Di belakangnya tampak produk karya teman-teman difabel.

Pemberdayaan Difabel & Kemandirian Komunitas


Pembicara pertama, Azis Abdullah Bajasud, Founder Komunitas Difabel Mandiri, menekankan pentingnya mindset kemandirian. Menurutnya, kunci pemberdayaan komunitas disabilitas bukan sekadar memberi pelatihan, tapi menciptakan sistem yang membuat mereka bisa berdiri dan menghasilkan sendiri.


Komunitas yang kuat bukan hanya wadah, tapi ekosistem yang menghubungkan akses modal, pelatihan, dan pasar. Melalui kegiatan seperti Inclusive Talks, inisiatif ini terus menumbuhkan semangat mandiri di kalangan penyandang disabilitas di Semarang.

Linggayani Soentoro berdiri di tengah ruangan mengenakan baju hijau gelap, memegang mic dan berbicara tentang kemandirian ekonomi komunitas disabilitas di Semarang.

Peran Komunitas dalam Mendorong Usaha Inklusif


Linggayani Soentoro, Direktur PKBM EduHouse, menjelaskan bagaimana komunitas menjadi tulang punggung ekonomi inklusif. EduHouse sudah lama bekerja dengan pelaku usaha difabel, memberikan pelatihan digital marketing, manajemen keuangan, dan pengembangan usaha rumahan.


Menurutnya, kemandirian ekonomi harus dimulai dari rasa percaya diri dan dukungan antaranggota komunitas. Kolaborasi dengan lembaga seperti Collabox Creative Hub dan DINSOS Kota Semarang memperkuat dampak ini, mengubah program pelatihan menjadi peluang usaha nyata yang berkelanjutan.

Gemma Tedjokusumo memaparkan studi kasus Pindrikan Markt sebagai contoh pengembangan produk UMKM di depan audiens Inclusive Talks di Collabox Creative Hub, Semarang.

Market-Driven Artisan: Mengenal Pasar dan Peluang


Gemma Tedjokusumo, General Manager Collabox Creative Hub, membawakan topik “Market-Driven Artisan” dengan studi kasus dari Pindrikan Markt, salah satu program bi-monthly dari Collabox. Gemma membedah bagaimana memahami karakter pasar lokal Semarang menjadi faktor penting dalam membangun produk yang laku dan relevan.


“Banyak kreator dan pelaku usaha belum memahami siapa target pasar mereka. Padahal, memahami audiens adalah langkah pertama untuk membangun brand dan produk yang berdaya jual,” jelasnya. Diskusi ini membuka wawasan peserta tentang strategi bisnis yang berbasis riset dan pendekatan pasar.

Gemma Tedjokusumo memaparkan studi kasus Pindrikan Markt sebagai contoh pengembangan produk UMKM di depan audiens Inclusive Talks di Collabox Creative Hub, Semarang.

Dari Dialog ke Aksi Nyata


Lebih dari sekadar talkshow, Inclusive Talks menjadi langkah konkret dalam membangun ekosistem ekonomi inklusif di Kota Semarang. Para peserta tidak hanya pulang dengan inspirasi, tetapi juga jejaring baru dan rencana kolaborasi yang akan dijalankan bersama pasca-acara.


Melalui kolaborasi antara Collabox, BAPPEDA, dan DINSOS Kota Semarang, acara ini menjadi bukti nyata bahwa kemandirian ekonomi bagi komunitas disabilitas bukan sekadar wacana, tetapi gerakan bersama menuju Semarang yang lebih inklusif, setara, dan berdaya saing.

Tentang Inclusive Talks


Inclusive Talks merupakan bagian dari program CollaTalks, seri diskusi yang diinisiasi Collabox Creative Hub untuk membahas berbagai isu sosial, ekonomi, dan kreatif di Semarang. Edisi inklusif kali ini menjadi tonggak penting dalam memperluas cakupan ekonomi kreatif agar dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Collabox percaya bahwa ekonomi kreatif sejati adalah yang memberi ruang untuk semua 💚

 
 
 
bottom of page