Merawat Ingatan dan Karya: Menelusuri Jejak Literasi dan Dedikasi Sulis Bambang dalam Ekosistem Sastra

Mengenal sosok Bu Sulis Bambang adalah penulis senior yang terus aktif melahirkan novel hingga kumpulan puisi. Berangkat dari latar belakang pendidikan ekonomi dan sempat berkecimpung sebagai pengusaha, keberaniannya berpindah jalur menunjukkan bahwa panggilan karya bisa hadir kapan saja. Bagi beliau, literasi memiliki makna yang jauh lebih mendalam dari sekadar aktivitas membaca atau merangkai kata di atas kertas. Bagi beliau, literasi adalah sebuah proses belajar yang berlangsung sepanjang hayat, yang terus dipupuk dari setiap hal yang kita lihat, dengar, rasakan, dan alami di dalam kehidupan.
Melampaui Batas Usia Biologis: Menulis sebagai Legasi dan Jejak Karya
Keputusan Bu Sulis Bambang untuk terus menulis berakar dari sebuah keresahan sekaligus "rasa cemburu" yang bermakna terhadap para maestro. Beliau berkaca pada pelukis Affandi dan penyair Chairil Anwar, yang karyanya tetap abadi dan terus terkenang dari generasi demi generasi meskipun diri mereka telah tiada. Bu Sulis menyadari bahwa usia biologis manusia memiliki batas, namun tulisan dan buku yang ditinggalkan memiliki masa yang lebih panjang dari usia biologis manusia. Melalui karya tulisannya, beliau ingin merawat ingatan dan meninggalkan legasi nyata, agar kelak anak, cucu, cicit, hingga para pembaca dapat terus menyapa pemikirannya dan mengenal sosoknya jauh setelah tak lagi ada.
Menyuarakan Kejujuran Rasa Melalui Puisi yang Membumi
Dalam melahirkan setiap karya, Bu Sulis Bambang secara berani mengusung pandangan anti-mainstream dengan menolak stereotip lama yang kerap meminggirkan perempuan dalam narasi sastra. Ciri khas tersebut tecermin melalui gaya penulisan "telanjang" beliau dengan penyampaian pesan dengan bahasa yang lugas, polos, dan bebas dari metafora rumit agar pesan kejujuran di dalamnya dapat langsung dipeluk dan dipahami oleh siapa saja yang membaca. Berpegang teguh pada prinsip untuk menuliskan apa yang ia sukai dan ingin sampaikan, Bu Sulis membuktikan bahwa keunikan karakter dan kejujuran rasa adalah kunci utama agar sebuah tulisan tetap memiliki nyawanya sendiri.
Menghadapi Ekosistem yang “Buas”
Menghadapi ekosistem literasi Semarang yang terkesan "buas" dengan tradisi "penggodokan" dan kritik tajam bagi para pendatang baru, Bu Sulis Bambang memilih untuk menyikapinya secara bijak dengan tetap tenang tanpa terpancing dalam konflik. Daripada gentar menghadapi tekanan lingkungan tersebut, beliau justru mendorong para kreator muda untuk tetap percaya diri, pantang menyerah, serta jeli memanfaatkan berbagai media untuk terus menyuarakan ide dan melahirkan karya-karya baru.
Membangun Ruang untuk Bertumbuh
Bagi Bu Sulis Bambang, hadirnya ruang kreatif yang hangat merupakan kuncian penting agar para kreator dapat saling mendukung dan bertumbuh bersama. Keterbatasan akses terhadap ruang publik fisik bukanlah penghalang, karena ruang diskusi dan berkarya kini dapat diciptakan di mana saja melalui kemudahan platform digital.
Semangat inklusif ini beliau wujudkan dalam komunitas Bengkel Sastra Taman Maluku (BeSTM) melalui program "Sedekah Budaya", sebuah kegiatan sinau bareng (belajar bersama) bedah karya yang memberi kesempatan setara bagi siapa saja untuk bersuara dan berbagi pandangan.
“Literasi yang berhasil dimulai dari melihat, mendengar, membaca, kemudian berani mengungkapkan”
Terus Menulis Tanpa Rasa Takut
Pada akhirnya, Bu Sulis Bambang mengingatkan kita bahwa melahirkan sebuah karya adalah perjalanan panjang yang membutuhkan waktu, pengalaman, dan proses belajar berkelanjutan. Karya tidak harus langsung sempurna atau diterima secara luas, hal terpenting adalah keberanian untuk tetap melangkah, karena rasa takut akan kegagalan justru jauh lebih mematikan daripada proses berkarya itu sendiri.
"Ketakutan untuk salah dan gagal justru lebih menakutkan daripada keinginan untuk berkarya. Menulislah dan membacalah. Jangan takut salah, jangan takut gagal" - Sulis Bambang
Tentang Creator Spotlight
Creator Spotlight adalah program dari Collabox Creative Hub yang menyoroti kreator, inovator, dan pelaku industri kreatif di Semarang dan sekitarnya. Melalui sesi ini, Collabox memperkenalkan berbagai kisah inspiratif dari komunitas kreatif yang membentuk wajah ekonomi kreatif Jawa Tengah.
Sedang mencari ruang untuk berkarya dan berkolaborasi? 🌱
Bergabunglah dengan ekosistem Collabox Creative Hub. Dari Private Office hingga Event Space, kami menyediakan infrastruktur agar ide kreatif dan gerakan sosial bisa tumbuh dan berdampak!



Komentar