top of page

Merekam Sejarah Lewat Canting: Perjalanan Kak Jessie Bersama Setitik Cultureware di Ekosistem Kreatif Semarang

  • 9 Jul
  • 3 menit membaca
Kak Jessie Setiawati founder Setitik Cultureware.
Kak Jessie Setiawati founder Setitik Cultureware.

​Kenalan dengan Kak Jessie Setiawati, founder sekaligus desainer dan pembatik tulis di balik jenama Setitik Cultureware. Berawal dari langkah sederhana belajar membatik di Kampung Batik Semarang karena ketertarikannya pada bangunan bersejarah, Kak Jessie kini berhasil menyulap medium kain menjadi kanvas dokumentasi cagar budaya Indonesia yang penuh makna.


​Dari Kepedulian Menjadi Karya Nyata


Semuanya bermula sekitar tahun 2016 ketika Kak Jessie menyadari sebuah fenomena yang memprihatinkan di Kota Lama Semarang: banyak bangunan cagar budaya yang ambruk atau beralih fungsi menjadi bangunan komersil tanpa adanya dokumentasi yang layak. Berangkat dari kegelisahan tersebut, lahirlah Setitik pada tahun 2019. Melalui motif canting cap dan tulis yang khas, Setitik merekam jejak bangunan ikonik seperti Gereja Blenduk, Marba, hingga Kota Tua di Jakarta dan Tambang Batu Bara Ombilin di Sawahlunto.


Tiga Pilar Penggerak: Art, Story, dan Social


Bagi Kak Jessie, Setitik bukan sekadar jenama pakaian biasa. Pergerakan mereka dihidupi oleh tiga kata kunci yang esensial:

  • Art: Nilai seni murni yang tertuang dalam setiap tarikan motif dan proses membatik.

  • Story: Setiap lembar kain menceritakan sejarah mendalam dari bangunan-bangunan cagar budaya yang menjadi inspirasinya.

  • Social: Misi sosial yang kuat untuk membagikan keterampilan membatik kepada masyarakat luas.


​Merangkul Kaum Marginal Hingga Warga Binaan


Dampak sosial yang dihadirkan Setitik sangat nyata dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Karena merasa pernah mendapatkan ruang untuk belajar membatik secara gratis, Kak Jessie memiliki panggilan untuk membagikan keahliannya kembali. Setitik rutin mengadakan program membatik di jalanan, merangkul teman-teman marginal di sekitar Kota Lama seperti tukang parkir, pedagang kaki lima, hingga pemulung.

​Tidak berhenti di situ, program ini juga merambah hingga ke balik jeruji besi, di mana Kak Jessie mengajar teman-teman narapidana di Lapas Benteng Willem I, Ambarawa.

"Karena sejatinya budaya Indonesia itu kaya banget, jadi kita punya tanggung jawab untuk berbagi. Orang-orang masih melirik budayanya dan mereka butuh ruang untuk belajar menghargai budaya itu dengan cara mereka sendiri."

​Menekan Ego Demi Ekosistem yang Kolaboratif


Berbicara tentang skena kreatif Kota Semarang, Kak Jessie melihat adanya perkembangan yang sangat positif sejak rentang tahun 2019. Apresiasi masyarakat terhadap produk lokal mulai tumbuh, dan para pelaku kreatif semakin giat membangun kota ini dengan cara mereka masing-masing. Namun, ada satu tantangan besar yang kerap menjadi hambatan: ego sektoral.


​Dalam dunia kreatif yang dipenuhi ragam ide, persaingan seringkali terasa sangat ketat. Kak Jessie menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci utama untuk bisa survive dan membesarkan skena lokal.

"Ketika berkolaborasi, turunkan ego. Setiap orang kreatif pasti punya kelebihannya masing-masing. Kalau partner udah nggak happy duluan, ya hasilnya nggak maksimal. Kita harus punya porsi yang sama, tidak mempertahankan ego sepenuhnya, tapi juga tidak merugikan partner."

​Agar budaya dan kreativitas bisa tumbuh selaras, Kak Jessie juga bermimpi Kota Semarang ke depannya dapat memiliki Creative Space komprehensif. Sebuah ruang terpadu berskala harian yang dilengkapi dengan berbagai macam laboratorium kriya—mulai dari lab kayu, ukir, hingga lab batik. Wadah multi-disiplin seperti ini dinilai sangat vital tidak hanya untuk melestarikan budaya sejak usia dini dan menjadi wadah eksperimen mahasiswa, tetapi juga untuk memutar roda ekonomi yang sehat bagi para crafter.


​Sebuah Pesan Untuk Kreator Muda


Di akhir sesi, Kak Jessie memberikan wejangan hangat bagi para kreator dan brand lokal di Semarang yang sedang merintis jalannya.

​"Dunia kreatif tentu nggak ada matinya. Struggle itu penting, tapi ketika kita menciptakan sebuah ide atau produk, alangkah baiknya kalau itu dikerjakan dari hati. Selama kita punya niatan baik ketika berproses dan berkarya, pasti selalu ada jalannya. Percaya."


​Tentang Creator Spotlight


Creator Spotlight adalah program dari Collabox Creative Hub yang menyoroti kreator, inovator, dan pelaku industri kreatif di Semarang dan sekitarnya. Melalui sesi ini, Collabox memperkenalkan berbagai kisah inspiratif dari komunitas kreatif yang membentuk wajah ekonomi kreatif Jawa Tengah.


​Sedang mencari ruang untuk berkarya dan berkolaborasi? 🌱


Bergabunglah dengan ekosistem Collabox Creative Hub. Dari Private Office hingga Event Space, kami menyediakan infrastruktur agar ide kreatifmu bisa tumbuh dan berdampak!




Komentar


bottom of page