top of page

Suara Perlawanan Perempuan Pesisir Demak di Festival Timbulsloko

  • Apr 27
  • 3 min read
Ketujuh belas kolaborator dan model peragaan busana eco-fashion dari Komunitas EMPU berdiri berjejer memamerkan karya desainer lokal di panggung kayu Festival Timbulsloko Demak.

Di sebuah perkampungan yang perlahan terkepung oleh air pasang yang tak pernah surut, Desa Timbulsloko, Sayung, Kabupaten Demak, sebuah perjumpaan yang sarat makna baru saja digelar. Di atas panggung-panggung kayu yang menopang kehidupan warga sehari-hari, Festival Timbulsloko yang bertajuk "Perempuan Pesisir: Merawat (Ibu) Bumi dan Laut" hadir bukan sekadar sebagai selebrasi budaya.


Festival ini adalah sebuah manifesto kolektif, sebuah acara di mana suara perempuan nelayan menjadi ujung tombak dalam menyuarakan keadilan iklim.



Kepemimpinan Perempuan di Garis Depan Krisis Iklim


Perempuan pesisir menanggung beban yang paling berat akibat krisis iklim. Krisis ini bukan hanya soal air yang menenggelamkan rumah, tetapi juga tentang kehancuran ekonomi dan tekanan sosial yang luar biasa. Di tengah kondisi ini, Organisasi Perempuan Nelayan Puspita Bahari menunjukkan bahwa mereka bukanlah korban yang pasif.


Masnuah, Ketua Puspita Bahari, menegaskan bahwa Festival Timbulsloko adalah mimbar bagi mereka untuk bersuara.


“Kami tidak butuh solusi palsu. Kami ingin kehidupan 'Ibu' Bumi dan laut jangan lagi dirusak atas nama pembangunan,” tegasnya.

Perlawanan ini nyata, mulai dari aksi pembibitan mangrove hingga gerakan kemandirian ekonomi yang dibangun secara mandiri.


Ritual Pemulihan Bumi dan Pasar Ngabei di Festival Timbulsloko


Prosesi ritual pemulihan Ibu Bumi melalui aksi penuangan cairan eco-enzyme ke perairan rob yang menenggelamkan desa dalam rangkaian Festival Timbulsloko.

Ketangguhan warga Timbulsloko juga tercermin dalam ritual pemulihan bumi. Warga menuangkan eco-enzyme ke perairan yang menenggelamkan desa, sebuah simbol pembersihan dan perlawanan penuh harapan.



Suasana ramai interaksi pengunjung dan warga yang menikmati jajanan tradisional bebas sampah plastik di Pasar Ngabei pada acara Festival Timbulsloko

Selain itu, hadir pula Pasar Ngabei yang diinisiasi oleh ibu-ibu Petani Bank Sampah Krajan Makmur. Dengan sistem tukar koin kayu, pasar ini menghidupkan kembali jajanan tradisional seperti sego jagung dan jamu coro tanpa sampah plastik. Sebuah bukti bahwa kedaulatan pangan dapat diwujudkan bahkan di tengah kepungan rob.


Manifesto 17: Menjahit Kembali "Dodot Bumi yang Robek"


Barisan tujuh belas model berbalut busana zero waste bersiap memegang bahan-bahan untuk prosesi ritual tebar eco-enzyme dalam perayaan Festival Timbulsloko.

Puncak dari festival ini adalah peragaan busana eco-fashion yang diinisiasi oleh Komunitas EMPU. Mengambil filosofi dari tembang Jawa Lir-Ilir, khususnya bait "Dodotira kumintir bedah ing pinggir, dondomana jrumatana" (Kainmu robek di pinggir, segera jahit dan perbaiki), panggung ini melambangkan upaya penjahitan sosial dan ekologis untuk memulihkan pesisir Demak yang rusak.


Sebanyak 17 kolaborator dari berbagai latar belakang, aktivis, warga desa, hingga akademisi, berjalan bersama untuk mendukung narasi ini. Setiap langkah dan pakaian yang dikenakan membawa pesan tentang zero waste dan keberlanjutan:


  1. Masnu'ah (Ketua Puspita Bahari)

    Mengenakan batik warna alam bermotif stilasi mangrove karya Zie Batik, simbol perjuangan yang dipimpin perempuan akar rumput.

  2. Yuniyanti Chuzaifah (Mantan Ketua Komnas Perempuan)

    Membawakan batik motif burung phoenix dari kain reject, simbol harapan yang dijahit kembali dari keputusasaan.

  3. Anggun (Perempuan Nelayan Morodemak)

    Memakai tunik eco-print Lusi Tjan dan sarung indigofera, menegaskan ketahanan estetika bumi.

  4. Susanti (Warga Timbulsloko)

    Mengenakan outer sulaman kain perca karya Lyna Windi, representasi visual nyata dari proses "menjahit kembali" lingkungan.

  5. Lasmiah (Perempuan Nelayan Timbulsloko)

    Tampil elegan dalam outer kebaya warna alam, membuktikan tradisi adalah sumber kekuatan

  6. Susan (Ketua KIARA)

    Memakai two pieces eco-print daun lanang, mencerminkan konsistensi advokasi dan gaya hidup.

  7. Azalya (WALHI Jateng)

    Mengenakan paduan eco-print dan tenun Gedog Tuban, menegaskan etika adalah mode masa depan.

  8. Della (LBH APIK Semarang)

    Menonjolkan pentingnya perjuangan inklusif melawan kekerasan berbasis gender di tengah krisis.

  9. Yuri (Jakarta Feminist)

    Hadir sebagai bentuk dukungan feminis perkotaan terhadap gerakan akar rumput.

  10. Rizzieq Aditya (LBH Semarang)

    Simbol solidaritas tanpa batas antar wilayah dalam perjuangan keadilan iklim.

  11. Habib (Demak Berdikari)

    Menggunakan ekstrak kayu limbah furnitur Jepara, mengubah sampah industri menjadi keindahan budaya.

  12. Putri (U Inspire)

    Perwujudan kekayaan Nusantara dalam proses pewarnaan alami yang berkelanjutan.

  13. Denish (Barapuan)

    Membuktikan limbah kecil sisa kain batik dapat diubah menjadi aksesori yang berharga.

  14. Untari (Demak)

    Bukti bahwa keindahan etis dapat dicapai tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

  15. Silvy (Seniman/Koreografer)

    Menampilkan perpaduan harmonis antara kreativitas alam dan gerakan advokasi yang elegan.

  16. Jeffry ‘The Cangik’ (Seniman)

    Mengangkat limbah menjadi pernyataan mode tertinggi melalui filosofi zero waste.

  17. Putra Rangga (Collabox Creative Hub)

    Mengenakan balutan outer batik indigofera dan sarung karya Zie Batik yang pewarnaannya diekstrak dari kayu mahoni.


Sinergi Ekosistem Kreatif Antara Collabox dan EMPU


Putra Rangga Permana tampil mengenakan balutan busana sustainable fashion karya desainer lokal sebagai perwakilan Collabox Creative Hub dan Komunitas EMPU di panggung Festival Timbulsloko.

Kehadiran ke-17 kolaborator di atas panggung kayu tersebut memperlihatkan bentuk solidaritas lintas sektor yang sangat kuat. Dalam barisan perlawanan kultural ini, ekosistem kreatif pun turut merapatkan barisan. Kehadiran Collabox Creative Hub dan EMPU Sustainable Fashion, yang diwakili oleh langkah Putra Rangga di panggung, menjadi wujud nyata dari dukungan tersebut.


Sebagai seorang desainer komunikasi yang memiliki filosofi karya berbasis dampak sosial dan storytelling, keterlibatan Putra Rangga di festival ini sangat relevan. Langkahnya tidak hanya sekadar membawakan busana ramah lingkungan, tetapi juga membawa misi untuk mendokumentasikan ketahanan warga lewat karya visual dan proyek buku fotografinya terkait krisis pendidikan dan literasi di Desa Timbulsloko yang bertajuk Kial, Kekal.


Di sini, Collabox Creative Hub dan Komunitas EMPU hadir di Timbulsloko mewakili ekosistem kreatif hadir untuk duduk sejajar sebagai tamu, belajar langsung dari ketangguhan perempuan Puspita Bahari, dan memberikan dukungan penuh agar suara akar rumput ini bisa terdengar lebih luas.



Sebuah Pelajaran Tentang Resiliensi


Festival ini ditutup dengan Sarasehan Keadilan Iklim yang mempertemukan warga dengan pemangku kebijakan. Pelajaran yang bisa dipetik dari Timbulsloko sangat jelas: di tengah badai krisis ekologis yang mengancam, kekuatan kolektif perempuan dan pelestarian kearifan lokal adalah jangkar utama untuk menjahit kembali bumi kita yang robek.

 
 
 
bottom of page