top of page

Menelusuri Arsip dan Rasa: Sejarah Toko "OEN"

  • 1 hari yang lalu
  • 4 menit membaca
An old black and white photo of the colonial building at Jalan Pemuda No 52, showcasing the early history of Toko Oen Semarang
Sumber: Toko "OEN"

Sembilan dekade bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah entitas bisnis kuliner untuk tetap tegak berdiri, terutama di tengah gempuran tren makanan modern yang silih berganti. Bangunan bergaya kolonial di Jalan Pemuda No. 52 (dahulu dikenal sebagai Jalan Bodjong), Semarang, menjadi saksi bisu bagaimana sebuah rasa dipertahankan melintasi empat generasi.


Dalam rangka merayakan AnniversaryĀ yang ke-90, tim Collabox Creative HubĀ mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk menilik kembali tentang sejarah dari Toko "OEN". Kami membuka lembaran arsip digital, menelusuri kliping surat kabar berbahasa Belanda dari tahun 1930-an, hingga membedah sejarah Toko "OEN"Ā di balik menu-menu yang menjadi terobosan di masanya.



Awal Mula: Dari Toko Kue Menjadi "Istana Es"


A vintage 1937 photograph of the first branch in Yogyakarta, marking the beginning of the history of Toko Oen.
Sumber: Toko "OEN"

Berdasarkan riset arsip yang kami lakukan, sejarah Toko "OEN"Ā ternyata bermula jauh sebelum mereka menjejakkan kaki di kota Semarang. Jejak pertama ditemukan pada tahun 1910 di Yogyakarta. Saat itu, Oma Oen (Liem Gien Nio) membuka sebuah toko kue resep Belanda yang diberi nama sesuai dengan nama Oma dan Opa (Oen Tjoen Hok). Di kalangan orang Eropa, tempat ini sangat tenar dengan sebutan OEN’s Koekjeswinkel, yang artinya Toko Kukis Oen.


Pada tahun 1922, toko yang semula hanya menjual kue ini berkembang dengan tambahan aneka masakan resep Belanda, China, dan Indonesia. Kesuksesan ini mendorong Oma dan Opa berekspansi dengan membuka cabang di Batavia/Jakarta pada 1934, dan Malang pada 1936.


A classic archive photo of Toko Oen in Batavia, reflecting its business expansion during the Dutch colonial era.
Sumber: Toko "OEN"

Di awal tahun 1935, Opa membeli sebuah gedung dengan fasilitas grill roomĀ di Jalan Bodjong nomor 52, Semarang. Saat pertama kali membuka pintu untuk pelanggan pada 4 Mei 1935, sejarah Toko "OEN" di Semarang mencatat sebuah rebrandingĀ yang berani. Mereka tidak lagi menyebut dirinya sebagai Koekjeswinkel, melainkan mendeklarasikan diri sebagai IjspaleisĀ atau Istana Es.


Penyematan nama "Istana Es" ini adalah sebuah simbol kemewahan. Mengapa demikian? Pada masa itu, es batu adalah barang yang sangat eksklusif. Sejak pertama kali masuk ke Indonesia pada kisaran tahun 1846, es harus diimpor jauh-jauh dari Boston, Amerika Serikat. Meski pabrik es lokal sudah ada sejak 1885, mesin pembuat es krim masih sangat mahal dan langka. Toko "OEN" adalah satu dari sedikit tempat yang mampu menghadirkan mesin tersebut, menjadikannya tempat pelesir paling bergengsi bagi kaum elit Belanda di Semarang. Pada 1936, operasional mereka semakin kuat dengan terbitnya izin usaha resmi dari Pemerintah Kotapraja Semarang.


Melintasi Empat Generasi dalam Sejarah Toko "OEN"


Bertahannya cabang Semarang selama sembilan dekade adalah sebuah prestasi sejarah yang luar biasa. Lantas, bagaimana sejarah Toko "OEN" bisa terus berlanjut sementara zaman terus berubah?


Jawabannya ada pada strategi pemasaran sejak era kolonial dan loyalitas keluarga yang sangat kuat. Pada surat kabar Algemeen Handelsblad voor NederlandschĀ tanggal 1 Mei 1935 menunjukkan betapa cerdasnya Toko "OEN" beriklan. Mereka mengumumkan pembukaan restoran dengan daya tarik musik dansa pada pukul 8 malam, sebuah tren hiburan yang sangat digemari kala itu.


A snippet of a vintage Toko Oen advertisement in a 1930s Dutch colonial newspaper, promoting the Ice Palace.
Sumber: Delpher.nl

Iklan-iklan mereka kerap memuat kalimat bergaya hidup yang menggoda, seperti: "Kemana Anda akan menghabiskan waktu dan bersenang-senang? Ke Toko "OEN" saja."Ā Reputasi mereka begitu bersinar hingga koran lokal De LocomotiefĀ kerap memuat ulasan liputannya. Baiknya reputasi ini bahkan membuat toko-toko lain di sekitarnya mencantumkan nama Toko "OEN" sebagai patokan alamat dalam iklan mereka agar lebih mudah ditemukan.


Dari tangan Opa Oen Tjoen Hok dan Oma Liem Gien Nio, pengelolaan berpindah ke generasi kedua, Oma Sien (Oen Liep Hwa). Kini, Ibu Jenny sebagai generasi ketiga telah mempersiapkan Alexander, Alexandy, dan Alexondo sebagai generasi keempat untuk memastikan nyala dapur legendaris ini tidak pernah padam. Sejarah Toko "OEN" Semarang bertahan melampaui cabang-cabang di kota lain karena kemampuan mereka menjaga relevansi tanpa mengorbankan identitas.


Melestarikan Sejarah Toko "OEN" Lewat Masakan


Kisah nostalgia tidak akan hidup tanpa resep otentik yang tak pernah berubah. Dalam merayakan ulang tahun ke-90 ini, sejarah Toko "OEN"Ā turut dirayakan lewat hidangan lintas zaman. Berikut adalah terobosan menu andalan yang resepnya dijaga ketat melintasi generasi:


Oma's Tomatensoep met Gehakt-Balletjes


Oma's Tomatensoep met Gehakt-Balletjes, a legendary Dutch tomato soup with meatballs from Toko Oen
Ilustrasi karya Pak Dadang

Sebuah adaptasi brilian dari sup tomat Belanda. Oma memodifikasi tekstur kuah yang biasanya kental menjadi lebih cair dan ringan agar pas dengan selera lokal, namun tetap mempertahankan resep asli bola-bola daging (gehakt-balletjes) tradisional Belanda.


Huzarensla


Huzarensla, the traditional Dutch potato salad with a fresh pineapple twist, preserving the history of Toko Oen.
Ilustrasi karya Pak Dadang

Dikenal sebagai traditional Dutch potato salad. Di masa kolonial, hidangan ini sangat mewah dan sering disajikan saat selebrasi. Ciri khas HuzarenslaĀ milik Toko "OEN" adalah sentuhan nanas yang memberikan rasa manis segar yang unik.


Bestik Lidah Toko "OEN"


Bestik Lidah Toko Oen, a premium tender beef tongue steak served with a rich savory sauce
Ilustrasi karya Pak Dadang

Ini adalah primadona sejati. Turunan dari Hollandse biefstuk, menu ini menggunakan lidah sapi yang diolah melalui tahapan ekstra panjang agar menghasilkan tekstur yang sangat empuk, menjadikannya salah satu menu paling istimewa.


Nasi Goreng Istimewa


Nasi Goreng Istimewa Toko Oen, a special fried rice blending Chinese recipes with Dutch roomboter.
Ilustrasi karya Pak Dadang

Sebuah saksi bisu akulturasi budaya. Berakar dari resep keluarga Tionghoa, Oma Oen memberikan sentuhan rahasia Belanda dengan menambahkan roomboterĀ (butter) yang harum, menciptakan cita rasa nasi goreng yang lembut dan mewah.


Oen's Poffertjes-Ijs


Oen's Poffertjes-Ijs, the iconic ball-shaped Dutch pancakes served with ice cream at Toko Oen
Ilustrasi karya Pak Dadang

Di balik kelezatannya, ada cerita unik yang kami temukan. Dahulu, pesanan cetakan poffertjesĀ yang datang dari luar negeri ternyata keliru, bulat membola seperti takoyaki, bukan pipih. Kesalahan sejarah ini justru dipertahankan dan menjadi bentuk ikonik poffertjesĀ Toko "OEN" yang dikenal hingga sekarang.



Jelajahi Sejarah di Pameran Toko "OEN"


Menuliskan hasil riset ini tentu tidak cukup untuk merangkum seluruh keajaiban nostalgia yang ada di dalamnya. Bagi Anda yang ingin kembali bernostalgia pada manisnya kenangan masa lalu, atau bagi generasi muda yang penasaran dengan jejak kuliner Dutch-Indies, ini adalah saat yang tepat.


The layout of the exclusive Toko Oen 90th anniversary archive exhibition in Semarang, displaying the history of Toko Oen.

Mari kunjungi pameran eksklusif peringatan 90 tahun Toko "OEN"!Ā Pameran yang merangkum rekam jejak perjalanan sejarah Toko "OEN"Ā ini digelar langsung di area restoran Toko "OEN", Jalan Pemuda, Semarang.


Saksikan dokumentasi foto keluarga lintas generasi, hingga arsip-arsip berharga yang membuktikan bagaimana restoran ini bertahan melewati ujian zaman. Rasakan atmosfer kolonialnya, dan pastikan Anda mencicipi deretan menu legendaris di atas persis di tempat di mana cerita itu pertama kali dimulai. Sampai jumpa di pameran Toko "OEN"!

Komentar


bottom of page